Upacara Adat Ngedus Jaran Kepang adalah tradisi memandikan properti kuda tiruan (anyaman bambu) yang digunakan untuk pementasan seni Jathilan atau Kuda Lumping.
Kata ngedus berasal dari bahasa Jawa yang berarti memandikan. Tradisi turun-temurun ini dilakukan oleh masyarakat Jawa, salah satunya di wilayah Padukuhan Klumprit, Sleman, Yogyakarta. Ritual sakral ini diadakan setiap bulan Suro dalam kalender Jawa guna mengharapkan keselamatan, keberkahan, serta kelancaran dalam setiap pementasan seni.
- Pembersihan Fisik dan Spiritual: Prosesi ini bukan sekadar mencuci properti pertunjukan. Air yang digunakan dicampur dengan kembang setaman (bunga mawar, melati, kantil) untuk membersihkan energi negatif yang melekat pada anyaman bambu tersebut.
- Lokasi yang Dikeramatkan: Pemandian tidak dilakukan di sembarang tempat, melainkan di mata air kuno atau sendang khusus, seperti Sendang Klumprit Kalurahan Caturharjo. Sumber air ini dipercaya memiliki nilai spiritual yang kuat bagi masyarakat setempat.
- Syarat Ubo Rampe (Sesajian): Ritual dipimpin oleh sesepuh adat dengan menyajikan berbagai ubo rampe (sesaji). Perlengkapan wajibnya meliputi kemenyan, pecut (cambuk), serta makanan tradisional sebagai simbol rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur.
- Menjaga Magis Pertunjukan: Jaran Kepang sangat lekat dengan atraksi kesurupan yang mistis. Upacara ngedus ini dipercaya dapat menjaga “nyawa” atau kekuatan magis di dalam properti agar para penari tetap aman dan kebal saat tampil di hadapan publik.
Bentuk Sarana dan Prasarana : Jaran Kepamg, ubo rampe sajen, pecut, kembang setaman
Lokasi Kegiatan : Di Sendang Klumprit
Waktu Pelaksanaan (Kalender Jawa & Masehi) : Setiap Bulan Suro
