
Kyai dan Nyai Talangpati dipercaya oleh penduduk sebagai cikal bakal Padukuhan Ngemplak. Kyai Talangpati adalah salah satu Laskar Talangpati yang merupakan laskar andalan Pangeran Diponegoro. Selanjutnya Kyai Talangpati mengawali babat alas di kawasan itu yang kemudian menjadi cikal bakal Padukuhan Ngemplak hingga sekarang ini.
Makam ini sendiri seperti makam biasa. Diberi pagar terbuat dari batu bata melingkari area makam, untuk membatasi tanah makam dengan tanah pekarangan penduduk. Makam Kyai dan Nyai Talangpati berada di tengah-tengah area makam yang dipadati dengan batu-batu nisan. Diberi pembatas pagar dari batu bata yang melingkarinya. Selalu ada tebaran bunga di atas kedua makam itu. Di depan nisan yang berupa tumpukan batu itu ada anglo tempat orang biasa membakar kemenyan atau ‘dupa’. Tidak ada tulisan di sana yang memberi penjelasan kapan nisan itu dibuat.
Menurut Ngadimin (56 tahun) tokoh masyarakat setempat, Kyai Talangpati bukan nama sebenarnya. Ia mengatakan bahwa Kyai Talangpati merupakan salah seorang prajurit Diponegoro yang menyembunyikan diri setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda di Magelang tahun 1830. Keterangan itu juga dikuatkan oleh Suyudi (58 th) juga seorang tokoh masyarakat warga setempat. Tidak diketahui sejak kapan anjuran bagi pengantin yang melintas di jalan itu untuk berjalan mengitari area pemakaman Talangpaten. Juga alasan mengapa jika anjuran itu tidak dipatuhi, maka akan mendapat musibah.
Tidak banyak orang melakukan tirakat di makam itu. Menurut cerita seorang yang pernah melakukan tirakat di makam itu, waktu duduk bersemedi di bawah pohon itu seperti digoyang, ‘dirog-rog’ kalau orang Jawa bilang. Menurut sumber yang tidak bersedia disebut namanya itu, beberapa bulan kemudian permohonannya terkabul. Ia percaya terkabulnya permohonan itu bukan karena Kyai dan Nyai Talangpati, tetapi karena permohonan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Memberi. Makam Kyai dan Nyai Talangpati hanyalah salah satu tempat yang dipilih oleh sumber tersebut.
